Showing posts with label MBG. Show all posts
Showing posts with label MBG. Show all posts

Tuesday

Dugaan Ayam Busuk di Program MBG Montong Gading, BGN Didesak Tutup Operasional Dapur Oknum Pimpinan Dewan

 



Lombook Timur (harianbumigora.com) – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Kilang, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, menuai protes keras dari masyarakat. Hal ini dipicu oleh temuan penyajian makanan yang dinilai tidak layak konsumsi, berupa daging ayam yang diduga sudah busuk dan buah-buahan yang tidak segar.


Berdasarkan laporan dari sejumlah tokoh masyarakat setempat, dapur penyedia makanan tersebut disinyalir milik seorang oknum Pimpinan DPRD Kabupaten Lombok Timur. Temuan ini memicu kegaduhan publik karena standar kesehatan pangan yang seharusnya menjadi prioritas utama justru terabaikan.


Keluhan tidak hanya datang dari warga, tetapi juga langsung dari para siswa sebagai penerima manfaat. Dalam pantauan di lapangan, sejumlah siswa mengungkapkan kekecewaan mereka melalui tulisan di lembaran kertas kecil yang menyatakan bahwa "Ayam Busuk" dan "Jeruk Tidak Manis". Keluhan ini menjadi bukti nyata bahwa aspek kontrol kualitas di dapur tersebut sangat lemah.


Menyikapi kondisi yang membahayakan kesehatan siswa tersebut, tokoh masyarakat mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera mengambil tindakan tegas. Mereka meminta agar operasional dapur di Desa Kilang tersebut segera ditutup karena telah gagal memenuhi standar gizi dan kebersihan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.


"Kami meminta pihak BGN untuk turun tangan dan menutup dapur tersebut. Ini menyangkut kesehatan anak-anak kita. Program nasional yang mulia ini jangan sampai dinodai oleh penyajian makanan

basi hanya demi mencari keuntungan pribadi," ujar salah satu perwakilan tokoh masyarakat.


Pemilik dapur diingatkan untuk lebih serius dalam memperhatikan keselamatan dan kesehatan para siswa. Penyelenggara program diharapkan tidak bermain-main dengan standar mutu pangan, mengingat program MBG merupakan atensi langsung dari Presiden RI guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia.


Elemen masyarakat menyatakan akan terus mengawal jalannya program MBG di Lombok Timur secara ketat. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa dana negara yang dialokasikan benar-benar memberikan manfaat gizi bagi siswa, bukan justru menimbulkan risiko penyakit akibat kelalaian penyedia jasa.

MBG (MAKAN BERGIZI GRATIS) BUKAN MBG (MAKAN BERACUN GRATIS)

Muhammad Riadi, Tokoh Pemuda Ketangga sekaligus aktivis Lombok Timur




Lombok Timur (harianbumigora) - Program unggulan presiden RI Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mengalami ujiannya di lapangan. Ujian berupa pro-kontra kembali melanda program ini.


Muhammad Riadi, salah seorang tokoh pemuda di salah satu desa di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, tepatnya Desa Ketangga Kecamatan Suwela, menyayangkan kenyataan yang terjadi di lapangan jauh dari yang seharusnya.


"Program MBG yang seharusnya menjadi makanan nikmat dan bergizi berubah menjadi  meracuni siswa."


Pernyataan pedas yang dilontarkan Riadi, panggilan akrabnya, menurutnya lantaran kurang profesionalnya pelaksanaan pemenuhan gizi oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)_Dapur MBG (red)_yaitu SPPG Ketangga.


"SPPG Ketangga menyajikan MBG dengan seperti tidak ada pegawai yang berkompeten di dalamnya." Ungkap Riadi.


Akibat kurang profesionalnya kinerja tim dari SPPG Ketangga ini, lanjut Riadi, makanan basi sering diterima siswa di beberapa sekolah di bawah naungan SPPG Ketangga ini.


"Makanan basi yang hampir dimakan siswa" Ujarnya.


Riadi melanjutkan, puncak keresahan masyarakat ketika pada Senin 26 Januari 2026 siswa-siswi di beberapa sekolah mengalami sakit perut setelah memakan masakan yang diterima dari SPPG Ketangga tersebut.


"Tidak sedikit siswa dari beberapa sekolah yang sakit-sakitan perutnya akibat sudah menkonsumsi MBG yang disajikan SPPG Ketangga." pungkas Riadi.


Kekesalan Riadi, menurutnya bukan tampa alasan. Hal ini dikarenakan keresahan yang melanda guru dan masyarakat di lingkungan Ketangga sudah mengkhawatirkan. Menurut penuturan Riadi, kondisi ini sudah menjadi buah bibir.


Muliati, salah seorang guru SMP Marakitta'limat Ketangga menyampaikan keresahannya di grup Whatsapp yang ada Riadi juga di dalamnya.


"Di SMP Marakitta'limat guru-guru dan muridnya sakit perut." Kata Muliati menurut penuturan Riadi.


Keadaan ini membuat rasa ironis dalam pandangan pemuda yang juga seorang aktivis Lombok Timur ini. 


"SPPG itu dapur profesional dan isinya orang-orang yang kita yakini berkompeten, maka tidak sepatutnya makanan cepat basi apalagi sampai keracunan." Tegas pemuda kelahiran Ketangga ini.