Oleh:
Mas Imam Hariadi
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNW Mataram
Media sosial benar-benar mengubah cara orang berkomunikasi dan menyampaikan pendapat. Sekarang, kolom komentar jadi semacam “ruang publik ” baru. Siapa saja bisa ikut nimbrung, menilai, bahkan membentuk opini bareng- bareng. Tapi, dari situ juga muncul satu perilaku yang makin sering kelihatan: Fear of Missing Out, atau FOMO. Singkatnya, orang takut ketinggalan tren, isu, atau obrolan yang lagi ramai.
Gara-gara FOMO, banyak orang ikut-ikutan berkomentar walaupun sebenarnya belum paham betul isu yang dibahas. Biasanya, komentar yang muncul jadi impulsif dan emosional. Kalau dilihat dari sisi psikolinguistik, bahasa yang dipakai di komentar itu bisa nunjukin apa yang ada di pikiran si penutur—mulai dari tekanan sosial, sampai keinginan untuk diakui. Nah, opini ini mau mengupas gimana FOMO akhirnya memengaruhi cara orang berbahasa waktu mereka berkomentar di media sosial.
FOMO paling gampang dilihat waktu ada topik viral. Orang merasa harus ikut komentar supaya nggak kelihatan ketinggalan zaman, supaya eksis. Akibatnya, komentar sering cuma tempelan, reaktif, dan kadang asal-asalan tanpa mikir soal pilihan kata atau makna. Banyak juga yang sekadar meniru komentar yang sudah duluan viral—bahasa yang dipilih kadang ekstrem, provokatif, atau sengaja cari perhatian.
Kalau pakai kacamata psikolinguistik, jelas banget faktor psikologis ikut main di sini. Tekanan buat buru-buru komentar bikin orang jarang mikir panjang dulu, jadi pesan yang keluar sering nggak terstruktur dan gampang bikin salah paham. FOMO juga bikin orang lebih sering pakai bahasa yang emosional, bukan rasional. Yang penting respons cepat, soal makna belakangan.
Contohnya gampang dicari di kolom komentar berita viral. Banyak orang langsung nyalahin atau bela pihak tertentu cuma dari baca judul, nggak peduli isi beritanya apa. Komentar yang muncul biasanya mirip-mirip, jadi kayak gerombolan yang ngomongin hal sama tanpa banyak variasi. Ini jelas nunjukin FOMO nggak cuma soal keputusan buat berkomentar, tapi juga soal cara orang memilih bahasa.
Jelas, FOMO saat berkomentar bisa bikin diskusi di media sosial jadi turun kualitasnya. Bahasa yang seharusnya buat klarifikasi dan tukar pikiran malah berubah jadi alat pelampiasan emosi atau ajang cari eksistensi. Dari sudut pandang psikolinguistik, tekanan sosial kayak gini bikin proses berpikir dan merangkai kalimat jadi kacau—ujaran yang keluar lebih dikendalikan emosi daripada kesadaran makna.
Intinya, FOMO dalam berkomentar di media sosial itu erat banget kaitannya sama aspek psikologis dan linguistik pengguna. Dorongan takut ketinggalan bikin orang jadi impulsif dan nggak terlalu mikirin apakah kata-katanya tepat atau enggak. Dari kacamata psikolinguistik, tekanan sosial bener-bener punya pengaruh besar ke produksi bahasa. Jadi, penting banget buat ningkatin kesadaran berbahasa dan kemampuan berpikir kritis, supaya media sosial bisa jadi tempat diskusi yang lebih sehat dan bermakna.













