Tuesday

FOMO dalam Berkomtar Di Media Sosial

 Oleh:

Mas Imam Hariadi

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNW Mataram


Media sosial benar-benar mengubah cara orang berkomunikasi dan menyampaikan pendapat. Sekarang, kolom komentar jadi semacam “ruang publik ” baru. Siapa saja bisa ikut nimbrung, menilai, bahkan membentuk opini bareng- bareng. Tapi, dari situ juga muncul satu perilaku yang makin sering kelihatan: Fear of Missing Out, atau FOMO. Singkatnya, orang takut ketinggalan tren, isu, atau obrolan yang lagi ramai.


Gara-gara FOMO, banyak orang ikut-ikutan berkomentar walaupun sebenarnya belum paham betul isu yang dibahas. Biasanya, komentar yang muncul jadi impulsif dan emosional. Kalau dilihat dari sisi psikolinguistik, bahasa yang dipakai di komentar itu bisa nunjukin apa yang ada di pikiran si penutur—mulai dari tekanan sosial, sampai keinginan untuk diakui. Nah, opini ini mau mengupas gimana FOMO akhirnya memengaruhi cara orang berbahasa waktu mereka berkomentar di media sosial.


FOMO paling gampang dilihat waktu ada topik viral. Orang merasa harus ikut komentar supaya nggak kelihatan ketinggalan zaman, supaya eksis. Akibatnya, komentar sering cuma tempelan, reaktif, dan kadang asal-asalan tanpa mikir soal pilihan kata atau makna. Banyak juga yang sekadar meniru komentar yang sudah duluan viral—bahasa yang dipilih kadang ekstrem, provokatif, atau sengaja cari perhatian.


Kalau pakai kacamata psikolinguistik, jelas banget faktor psikologis ikut main di sini. Tekanan buat buru-buru komentar bikin orang jarang mikir panjang dulu, jadi pesan yang keluar sering nggak terstruktur dan gampang bikin salah paham. FOMO juga bikin orang lebih sering pakai bahasa yang emosional, bukan rasional. Yang penting respons cepat, soal makna belakangan.


Contohnya gampang dicari di kolom komentar berita viral. Banyak orang langsung nyalahin atau bela pihak tertentu cuma dari baca judul, nggak peduli isi beritanya apa. Komentar yang muncul biasanya mirip-mirip, jadi kayak gerombolan yang ngomongin hal sama tanpa banyak variasi. Ini jelas nunjukin FOMO nggak cuma soal keputusan buat berkomentar, tapi juga soal cara orang memilih bahasa.


Jelas, FOMO saat berkomentar bisa bikin diskusi di media sosial jadi turun kualitasnya. Bahasa yang seharusnya buat klarifikasi dan tukar pikiran malah berubah jadi alat pelampiasan emosi atau ajang cari eksistensi. Dari sudut pandang psikolinguistik, tekanan sosial kayak gini bikin proses berpikir dan merangkai kalimat jadi kacau—ujaran yang keluar lebih dikendalikan emosi daripada kesadaran makna.


Intinya, FOMO dalam berkomentar di media sosial itu erat banget kaitannya sama aspek psikologis dan linguistik pengguna. Dorongan takut ketinggalan bikin orang jadi impulsif dan nggak terlalu mikirin apakah kata-katanya tepat atau enggak. Dari kacamata psikolinguistik, tekanan sosial bener-bener punya pengaruh besar ke produksi bahasa. Jadi, penting banget buat ningkatin kesadaran berbahasa dan kemampuan berpikir kritis, supaya media sosial bisa jadi tempat diskusi yang lebih sehat dan bermakna.


Thursday

H. Syamsu Rijal Ajak Masyarakat Jadikan Isra Mi’raj sebagai Momentum Penguatan Iman dan Akhlakul Karimah




Lombok Timur (harianbumigora.com) --) Dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, H. Syamsu Rijal, SH., MM menyampaikan ucapan dan ajakan kepada seluruh masyarakat untuk menjadikan peristiwa agung tersebut sebagai momentum memperkuat keimanan, ketakwaan, serta akhlak dalam kehidupan sehari-hari.


Peringatan Isra Mi’raj yang jatuh pada 27 Rajab 1447 Hijriah atau bertepatan dengan 16 Januari 2026 merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Isra Mi’raj menjadi pengingat perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yang sarat dengan hikmah, khususnya tentang perintah salat sebagai tiang agama dan fondasi utama dalam membentuk pribadi yang beriman dan berakhlakul karimah.


"Hendaknya momentum Isra Mi'raj ini kita jadikan sebagai momen untuk muhasabah diri, perkuat iman taqwa, dan akhlakul karimah." Ujar H. Samsu Rijal. 


H. Syamsu Rijal juga menegaskan bahwa nilai-nilai Isra Mi’raj harus terus diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Menurutnya, shalat tidak hanya menjadi kewajiban ritual, tetapi juga sarana membangun disiplin, kejujuran, tanggung jawab, serta kepedulian kepada sesama. 


"Hendaknya shalat sebagai tiang agama tidak hanya menjadi kewajiban ritual, tetapi juga sarana membangun disiplin, kejujuran, tanggung jawab, serta kepedulian kepada sesama." Ungkapnya. 

Himmah NW UNW Mataram Gandeng Pemerintah Edukasi Masyarakat; Pernikahan Dini Sampai Bahaya Narkoba

 



Lombok Barata (harianbumigora.com) -- Himpinana Mahasiswa Nahdlatul Wathan (HIMMAH NW) Komisariat Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram laksanakan program HIMMAH NW GOE TO SCHOOL JILID VI dengan mengambil lokasi di Desa Batu Putik Kecamatan Sekotong Barat. (26/12/2025). 


Dalam kesempatan itu Ketua Komisariat HIMMAH NW Komisariat UNW Mataram, Zaidullah Anshori menyampaikan bahwa edukasi masyarakat adalah program utama yang diprioritaskan. "Kita prioritaskan edukasi masyarakat." Ungkapnya.


Salah satu program edukasi yang dilaksanakan adalah Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini. Melalui kegiatan ini Anshori, panggilan akrabnya menyatakan pentingnya peningkatan kesadaran generasi muda akan kesiapan mental, pendidikan, dan kesehatan sebelum memasuki jenjang pernikahan. Selain itu, ujar Anshori, diupayakan juga adanya kesadaran mengenai dampak negatif pernikahan dini, baik dari aspek kesehatan, psikologis, sosial, maupun ekonomi.


"Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman  akan pentingnya kesadaran generasi muda untuk mempersiapkan mental, pendidikan, dan kesehatan sebelum memasuki jenjang pernikahan, serta kesadaran mengenai dampak negatif pernikahan dini, baik dari aspek kesehatan, psikologis, sosial, maupun ekonomi." Paparnya.


Selain sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini, dalam agenda HIMMAH NW GOES TO SCHOOL tersebut juga dilakukan Sosialisasi dan Pendampingan UMKM.


Dalam kegiatan ini, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya inovasi produk, pengelolaan usaha yang baik, serta strategi pemasaran guna meningkatkan daya saing UMKM di tengah tantangan ekonomi saat ini.


"Diharapkan kegiatan ini mampu menumbuhkan semangat kewirausahaan dan kemandirian ekonomi masyarakat." Ungkap Idham, S.Sos selaku pemateri pada acara dimaksud.


Yang tidak kalah menarik dari program HIMMAH NW GOES TO SCHOOL kali ini adalah Sosialisasi dan Penyuluhan Bahaya Narkoba. Mengingat pentingnya kegiatan ini, langsung diundang sebagai narasumber dalam hal ini dari POLRI unit Detasemen Husus 88 (Densus 88).


"Kita undang DENSUS 88, karena ini merupakan hal yang sangat urgen bagi anak-anak muda saat ini" Tegas Anshori.


Sebagai informasi, peserta yang berpartisipasi dalam giat HIMMAH NW GOES TO SCHOOL kali ini berjumlah 355 orang dari berbagai elemen, yaitu: utusan siswa SMP, SMA, SMK, dan MA serta tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama dan pimpinan ponpes di lingkungan Kecamatan Sekotong Barat. Kegiatan berlangsung seru di dalam aula Pondok Pesantren Ahlussunnah Waljamaah NW Berambang.


Melalui Aspirasi, H. Syamsu Rijal Salurkan Hibah Renovasi Masjid Jami' Libassuttaqwa Jenggik




Lombok Timur (harianbumigora.com) – Aspirasi masyarakat Desa Jenggik, Kabupaten Lombok Timur, terkait kebutuhan peningkatan sarana ibadah mendapat perhatian serius. 


Melalui mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat, H. Syamsu Rijal, SH., MM, Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Daerah Pemilihan IV, menyalurkan dana hibah untuk renovasi Masjid Jami’ Libassutaqwa Jenggik. Bantuan tersebut secara resmi diterima oleh Panitia Pembangunan Masjid Jami’ Libassutaqwa Jenggik dalam sebuah kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan masjid.


Penyerahan hibah berlangsung di Masjid Jami’ Libassutaqwa Jenggik, Desa Jenggik, dan disaksikan oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus masjid, serta jamaah. Bantuan ini diperuntukkan bagi renovasi fisik masjid, termasuk peningkatan fasilitas penunjang ibadah, guna memberikan kenyamanan, keamanan, dan kelayakan bagi jamaah dalam melaksanakan berbagai aktivitas keagamaan.


Dalam keterangannya, H. Syamsu Rijal menyampaikan bahwa penyaluran dana hibah tersebut merupakan bagian dari tugas dan fungsi wakil rakyat dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat, khususnya pada sektor keagamaan yang memiliki peran strategis dalam pembinaan umat.


“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan keagamaan dan sosial masyarakat. Aspirasi yang disampaikan warga Desa Jenggik kami tindak lanjuti melalui penyaluran hibah ini, dengan harapan dapat mendukung kelancaran renovasi dan meningkatkan kualitas fasilitas masjid,” ujar H. Syamsu Rijal. 


Ia juga menegaskan pentingnya pengelolaan dana hibah secara transparan dan akuntabel, agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal oleh seluruh jamaah dan masyarakat.


Sementara itu, Lalu Suaidi, salah satu Panitia Pembangunan Masjid Jami’ Libassutaqwa Jenggik, menyampaikan bahwa bantuan hibah tersebut menjadi dorongan besar bagi panitia dan masyarakat dalam melanjutkan proses renovasi masjid yang telah direncanakan sejak lama.


“Kami atas nama panitia pembangunan dan masyarakat Desa Jenggik mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak H. Syamsu Rijal atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Dana hibah ini sangat membantu kelangsungan renovasi masjid dan akan kami gunakan secara bertanggung jawab, transparan, serta sesuai dengan peruntukannya,” ungkap Suaidi.


Menurutnya, keterbatasan anggaran swadaya masyarakat selama ini menjadi salah satu kendala dalam percepatan renovasi masjid. Dengan adanya bantuan dana hibah tersebut, panitia optimistis proses pembangunan dan perbaikan fasilitas masjid dapat berjalan lebih efektif dan tepat waktu.

Kegiatan penyerahan hibah berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan. Kehadiran tokoh masyarakat dan jamaah mencerminkan dukungan serta harapan besar agar Masjid Jami’ Libassutaqwa Jenggik ke depan dapat menjadi pusat ibadah yang lebih representatif, sekaligus pusat kegiatan keagamaan dan sosial yang memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

Melalui penyaluran hibah ini, diharapkan sinergi antara masyarakat dan wakil rakyat terus terjalin, sehingga aspirasi masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi kehidupan beragama dan sosial kemasyarakatan.

Wednesday

Tutup Tahun 2025, UNW Mataram Resmi Buka Program Magister PAI dan HKI



MATARAM - Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram terus memantapkan langkah strategis dalam penguatan tridarma perguruan tinggi guna meraih akreditasi Baik Sekali dan Unggul.


Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan program studi, khususnya pada jenjang Pascasarjana, dengan dilaksanakannya asesmen lapangan (AL) untuk Program Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) dan Magister Hukum Keluarga Islam (S2 HKI) oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.


Rektor UNW Mataram, H. Lalu Gde Syamsul Mujahidin, S.E., M.Pd., menegaskan, pembukaan program magister merupakan tonggak sejarah penting bagi UNW Mataram.


“UNW Mataram sudah berdiri 38 tahun, namun belum memiliki program magister. Maka pembukaan Pascasarjana ini menjadi program utama kepemimpinan saya. Tim bekerja maksimal, dan Alhamdulillah Magister PAI dan HKI UNW Mataram telah menjalani asesmen lapangan oleh para profesor utusan Dirjen Diktis,” tegasnya Rabu, 31 Desember 2025 di Mataram.


Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada jajaran Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama serta para asesor atas pendampingan dan kepercayaan yang diberikan.


“Rekomendasi Magister PAI dan HKI UNW Mataram menjadi harapan besar sivitas akademika UNW Mataram dan seluruh jamaah Nahdlatul Wathan,” pungkasnya.


Memasuki tahun 2025, UNW Mataram kini mengelola 9 fakultas dengan 25 program studi. Sebanyak 21 program studi telah memiliki izin Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Akreditasi program studi berada pada peringkat Unggul, Baik Sekali, dan Baik, sementara Akreditasi Institusi UNW Mataram telah meraih predikat Baik Sekali.


“Tahun 2025 ini kami mengikhtiarkan pembukaan Program Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) dan Magister Hukum Keluarga Islam (S2 HKI), di samping sejumlah program Sarjana dan Sarjana Terapan yang dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.


Sebagai langkah awal, Rektor menunjuk Tim Penyusunan Borang Usulan Program Studi Baru UNW Mataram Tahun 2025 yang dikomandoi oleh Dr. H. M. Mugni Sn., M.Pd., M.Kom., Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Wathan (Pimpus ISNW).


Dr. Mugni menegaskan, pengusulan Program Pascasarjana UNW Mataram disiapkan secara sistematis, terencana, dan berorientasi mutu.


“Sejak awal kami menyiapkan borang dengan pendekatan kualitas, bukan sekadar administratif. Tim bekerja terprogram, termonitor, dan dievaluasi secara berkala, serta intens berkoordinasi dengan Kementerian Agama dan Kemendikti Saintek,” jelas Dr. Mugni.


Ia menambahkan, asesmen lapangan menjadi momentum penting untuk menunjukkan kesiapan UNW Mataram dalam menyelenggarakan pendidikan pascasarjana yang bermutu.


“Asesmen lapangan ini bukan hanya penilaian dokumen, tetapi penilaian kesiapan ekosistem akademik mulai dari SDM dosen, kurikulum, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga tata kelola. Insyaallah UNW Mataram siap,” tegasnya.


Program Magister Pendidikan Agama Islam dan Program Magister Hukum Keluarga Islam UNW Mataram telah usai melaksanakan asesmen lapangan pada pekan lalu.Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama menugaskan asesor sebagai berikut:


Asesor Magister PAI:

Prof. Drs. H. M. Sirozi, M.A., Ph.D. (Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang)

Prof. Dr. H. Ali Mudhofir, M.Ag. (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya)


Asesor Magister HKI:

Prof. Dr. Abdul Matin bin Salman, M.Ag. (UIN Raden Mas Said Surakarta)

Prof. Dr. Ramdani Wahyu Sururie, M.Ag. (Guru Besar Hukum Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung)


Secara historis, berdirinya UNW Mataram tidak terlepas dari amanah Al-Maghfurullahu Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid kepada Pimpus Ikatan Sarjana NW yang saat itu dipimpin Drs. H. Lalu Gde Wirasanantane. Amanah tersebut diwujudkan dengan berdirinya UNW Mataram pada tahun 1987.


UNW Mataram memperoleh izin operasional dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui SK Nomor 0389/O/1991 tanggal 22 Juni 1991, dengan empat fakultas dan sembilan program studi awal.


Dengan dilaksanakannya asesmen lapangan Program Magister PAI dan HKI, UNW Mataram semakin meneguhkan diri sebagai perguruan tinggi yang konsisten membangun mutu akademik, keberlanjutan kelembagaan, dan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Monday

DEMA UNW MATARAM GELAR DIALOG WAWASAN KEBANGSAAN, TEGUHKAN KOMITMEN MAHASISWA JAGA NILAI-NILAI KEBANGSAAN



Lombok Timur (harianbumigora.com) - Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram menggelar Dialog Wawasan Kebangsaan bertema “Dari Kampus untuk Negeri: Peran Strategis Mahasiswa Menjaga Keutuhan Bangsa” yang dihadiri oleh 680 mahasiswa, bertempat di Ballroom Bupati Lombok Timur, pada Hari Minggu 28 Desember 2025 Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi ideologis mahasiswa dalam merespons tantangan kebangsaan yang kian kompleks. Di tengah derasnya arus globalisasi, polarisasi sosial, serta melemahnya kesadaran kolektif terhadap nilai-nilai kebangsaan, mahasiswa dituntut tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga militan dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara.


Dalam sambutannya, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Sukirman, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran sentral sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan dan moral bangsa. “Mahasiswa tidak boleh kehilangan arah di tengah derasnya arus globalisasi. Nilai-nilai kebangsaan harus terus kita perjuangkan sebagai fondasi berpikir, bersikap, dan bertindak. DEMA UNW Mataram berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang dialog yang mencerahkan dan membangun kesadaran kolektif mahasiswa,” tegasnya.




Ia menambahkan bahwa peran strategis mahasiswa bukan sekadar menjadi penonton sejarah, melainkan subjek perubahan yang berani berpikir kritis, bersuara lantang, dan bertindak nyata dalam menjaga persatuan serta keutuhan bangsa. Dialog Wawasan Kebangsaan ini menegaskan komitmen DEMA UNW Mataram untuk terus menghadirkan ruang-ruang perjuangan intelektual yang menumbuhkan militansi ideologis mahasiswa, agar tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat.


Melalui kegiatan ini, mahasiswa UNW Mataram menyatakan sikap tegas: dari kampus untuk negeri, mahasiswa siap berdiri di garda terdepan menjaga keutuhan bangsa demi Indonesia yang berdaulat, adil, dan bermartabat. Dialog ini menjadi penegasan bahwa mahasiswa UNW Mataram bukan generasi kompromi, melainkan generasi perlawanan intelektual yang setia pada Pancasila.

Wednesday

Degradasi Moral Masyarakat Sasak: Antara Popularitas Instan, Krisis Etika, dan Tantangan Sosial

 Oleh: 

Ahmad Sirojul Hakiki

Dosen Sastra Arab UNW Mataram/ Wakil Sekretaris PIMPUS IPNW


Istilah degradasi moral mungkin sebuah diksi yang pantas untuk bebrapa feneomena sosial yang muncul di masyarakat sasak belakangan ini. Degradasi moral berarti sebuah kejadian yang menunjukkan adanya perubahan sosial yang cukup serius, terutama ketika perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan norma agama dan budaya justru mendapat ruang luas khususnya di media digital. Lombok yang selama ini dikenal sebagai “Pulau Seribu Masjid” dan banyaknya pondok pesantren, menghadapi realitas baru yang tampak paradoksal dengan identitas religius tersebut. Beberapa kejadian yang viral, seperti konten kreator yang menampilkan bagian intim tubuhnya melalui live TikTok, penari yang mempertontonkan goyang erotis atau anco-anco, hingga kasus pengantin pria dalam momen nyongkolan yang memperlihatkan sikap tidak beretika kepada orang tua, menjadi cermin bahwa dinamika sosial sedang mengalami distorsi. Situasi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari interaksi kompleks antara perkembangan teknologi, budaya digital, dan melemahnya kontrol sosial.


Fenomena konten kreator yang rela mengeksploitasi bagian intim tubuhnya untuk kepentingan tayangan live TikTok. Konten tersebut diketahui setelah di rekam dan kemudian di uploud di facebook, salah satunya adalah akun @Nina Bonde. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui perspektif psikologi media dan teori uses and gratifications. Sebagaimana dijelaskan oleh Saputra (2019), bahwa pengguna media sosial memanfaatkan platform digital untuk memenuhi kebutuhan tertentu seperti hiburan, perhatian, validasi, dan status sosial. Popularitas instan menjadi mata uang baru yang mendorong sebagian individu menabrak batas moral demi mendapatkan jumlah penonton yang tinggi. Dalam konteks opini, tindakan tersebut menunjukkan adanya kegagalan individu dalam membedakan antara kreativitas digital dengan perilaku destruktif yang merusak martabat diri dan masyarakat. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana produktif, berubah menjadi panggung yang mengundang sensasi dan menormalisasi perilaku vulgar. Hal ini tentu meresahkan, terutama ketika anak-anak dan remaja menjadi penonton pasif yang tanpa sadar menyerap nilai-nilai yang salah.


Selain itu, maraknya goyang erotis atau anco-anco sebagaimana yang teraploud pada akun Facebook @idayani Lombok menunjukkan tontonan yang sangat tidak memiliki nilai moral sama sekali. Goyang-goyangan pada video yang ditampilkan mengandung unsur sensualitas yang sangat berlebihan, hal ini menunjukkan bahwa ruang hiburan lokal mulai kehilangan arah estetika budayanya. Seni tradisional Lombok yang kaya, seperti wayang Sasak, mulai tersisih oleh pertunjukan yang menonjolkan tubuh dan gerakan tidak senonoh. Tak hanya itu, kegiatan-kegiatan hiburan musik dari cilokak pada malam harinya berubah menjadi nuansa sensual yang mengundang banyak kontradiktif dari berbagai pihak. Dari sudut pandang ilmiah, fenomena ini dapat dikaitkan dengan teori komodifikasi. Menurut Surahman, Annisarizki, dan Rully (2019) teori komodifikasi ialah dimana tubuh dan ekspresi sensual dikomersialisasikan demi memenuhi selera pasar yang cenderung konsumtif dan sensasional. Dalam konteks ini penulis menilai bahwa ini bukan sekadar persoalan moral individu, tetapi representasi dari lemahnya sistem regulasi yang seharusnya mampu mengawasi pertunjukan publik. Lebih jauh lagi, keadaan ini menyiratkan bahwa sebagian masyarakat telah kebingungan dalam menempatkan batas antara seni, hiburan, dan vulgaritas. Akibatnya, masyarakat luas khususnya generasi muda berpotensi kehilangan role model yang baik dan mengganti standar moral dengan standar popularitas.


Kasus lain yang tak kalah mencolok adalah perilaku seorang pengantin pria dalam prosesi nyongkolan yang terekam di akun facebook @Ayu menunjukkan perilaku yang sangat tidak senonoh. Pria tersebut terekam menaiki motor orang tua yang berada di depannya dengan cara yang menunjukkan sangat kurangnya etika dan penghormatan. Prosesi nyongkolan dalam budaya Sasak pada hakikatnya merupakan wujud kebahagiaan antara mempelai laki-laki dan prerempuan dengan iringan musik dari gendang beleq atau kecimol sebagai bentuk pemberitahuan kepada khalayak tentang mulainya suatu hubungan suci pernikahan, serta simbol kesakralan dalam membangun rumah tangga. Ketika seorang pengantin menunjukkan sikap tidak sopan terhadap orang tua di momen yang sangat bermakna tersebut, artinya terjadi gangguan dalam internalisasi nilai-nilai budaya dan agama. Dari perspektif sosiologi, ini merupakan contoh degradasi cultural capital, yaitu hilangnya pemahaman nilai budaya akibat dominasi gaya hidup instan dan budaya visual (Yasin dan Lestari 2024). Penulis menganggap bahwa tindakan tersebut bukan sekadar “kelakuan viral”, tetapi tanda bahwa generasi muda semakin jauh dari adab dan tata krama yang menjadi inti budaya Sasak. Keluarga, sekolah, dan lingkungan adat tampaknya mulai kesulitan menanamkan nilai-nilai tersebut di tengah derasnya arus media digital.


Fenomena-fenomena tersebut menjadi ironi besar karena Lombok selama ini dikenal sebagai wilayah dengan iklim religius yang kuat. Keberadaan ribuan masjid dan banyaknya pondok pesantren seolah tidak otomatis mampu membentengi generasi muda dari perilaku menyimpang. Secara ilmiah, ini dapat dijelaskan dengan konsep religiosity gap, yaitu kesenjangan antara keberagamaan formal (simbol, ritual, identitas) dengan keberagamaan substantif (akhlak, perilaku, adab). Kehadiran masjid dan pesantren hanya akan efektif jika nilai-nilainya dipraktikkan secara nyata dalam ruang keluarga, ruang sosial, dan terutama ruang digital. Penulis menyatakan bahwa masyarakat Lombok perlu melakukan refleksi, apakah keberagamaan yang selama ini dijaga lebih banyak berhenti pada simbolistik, atau benar-benar telah membentuk karakter generasi muda.


Yang lebih mengkhawatirkan adalah dampak fenomena tersebut pada anak-anak dan remaja. Penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa paparan konten vulgar dapat menurunkan sensitivitas moral, meningkatkan imitasi perilaku menyimpang, serta mengganggu perkembangan konsep diri dan kontrol emosi. Anak-anak yang terpapar konten tidak senonoh di media sosial akan menganggap perilaku tersebut sebagai hal biasa, karena di era digital, apa pun yang viral cenderung dianggap valid dan benar. Dalam hal ini, penulis menegaskan bahwa tanpa pengawasan orang tua, kontrol sosial masyarakat, serta edukasi digital yang memadai, generasi muda Lombok berpotensi mengalami erosi nilai dan kehilangan kompas moralnya.


Dengan demikian, berbagai kejadian di Lombok bukan hanya soal individu yang mencari popularitas, tetapi gambaran dari masalah sosial yang kompleks. Oleh sebab itu, diperlukan langkah-langkah konkret seperti peningkatan literasi digital berbasis nilai moral, penguatan pendidikan etika di lingkungan keluarga, penegakan regulasi terhadap konten vulgar, serta revitalisasi budaya lokal yang berkarakter.dan pemerintah seharusnya memiliki regulasi khususnya dalam hal video-video di media sosial yang berdedar, sehingga ketika ada yang melanggar norma atau mengnadung unsur pornografi, konten tersebut langsung di tackdown sebelum ditonton luas oleh masyarakat digital. Sebagaimana diketahu bahwa Lombok memiliki sumber daya moral yang kuat, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, nilai-nilai itu akan terkalahkan oleh budaya digital yang serba instan. Masyarakat perlu kembali menegakkan adab sebagai fondasi utama, karena tanpa itu, label “Pulau Seribu Masjid” hanya akan menjadi slogan yang kehilangan makna.


Monday

FKM YAPADAMU NW Mataram Laksanakan KBS Tahunan; Wujudkan Organisasi Sebagai Laboratorium Kepedulian Sosial

 



Lombok Barat (harianbumigora.com)— Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Yayasan Pendidikan Darul Mujahidin Nahdlatul Wathan (YAPADAMU NW) pada tahun ini memilih Pantai Meninting Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat sebagai lokasi event tahunannya kali ini yaitu Kemah Bakti Sosial (KBS). (23/11/2025). 


Pemilihan Pantai Meninting sebagai lokasi kegiatan bukan tampa alasan. Hal ini dilakukan untuk menanamkan kepada mahasiswa bahwa kepedulian bukan hanya tentang sosial tapi juga kepedulian kepada lingkungan. Hal ini ditegaskan oleh Pembina FKM YAPADAMU, Dr. Hilmi Sopian, M.Pd. 


"Kalau tahun-tahun sebelumnya KBS dilakukan ditengah pemukiman warga karena tujuannya adalah terbentuknya jiwa kepedulian sosial mahasiswa. Namun kali ini kita berharap mahasiswa juga memiliki kepedulian lingkungan." Ungkap Sopian, sapaan akrabnya. 



Kegiatan ini berlangsung selama selama tiga hari dari tanggal 21 - 23 November 2025. Selama tiga hari itu mahasiswa melakukan perkemahan di pinggir pantai Meninting lalu pada pagi harinya sampai sore hari selama dua hari yaitu tanggal 22 - 23 dijadwalkan bersih-bersih lingkungan di sepanjang garis pantai Meninting. 


"Kita fokuskan kegiatan untuk melakukan bersih-bersih selama dua hari penuh di lingkungan sepanjang garis pantai Meninting." Tegas Sopian. 



Kegiatan ini tidak terlepas dari koordinasi dengan stake holder setempat yaitu kepala desa dan kepala dusun setempat.


"Kami juga berkoordinasi dengan kades supaya diketahui bentuk kegiatan yang dilakukan." Tegas Sopian. 


Ditanya mengenai sumber dana kegiatan, pria yang sebentar lagi baru akan mengikuti yudisium dan wisuda doktoralnya di Universitas Negeri (UIN) Mataram ini menegaskan bahwa kegiatan ini adalah swadaya dari mahasiswa sendiri. 


"Dananya swadaya, sengaja supaya mahasiswa terbiasa berkorban dan dan peduli pada lingkungan sekitar." Tegasnya. 


Mengenai langkah ke depan Peraih gelar Doktor di bidang pendidikan ini kembali menegaskan bahwa kegiatan-kegiatan seperti ini berkelanjutan setiap tahun dengan target, sasaran, dan lokasi yang berbeda-beda. 


""Tetap kita agendakan setiap tahun dan lokasinya menyesuaikan sesuai target dan sasaran yang diagendakan." Tutupnya dalam wawancara pribadi oleh media ini. 

Tuesday

Fakultas sastra universitas Nahdlatul Wathan Mataram gelar yudisium sarjana tahun akademik 2024/2025




Mataram (harianbumigora.com) — Fakultas Sastra Universitas Nahdlatul Wathan Mataram  resmi menggelar kegiatan Yudisium Tahun Akademik 2024/2025 pada Sabtu (08/11) bertempat di Aula UNW Mataram . Kegiatan ini menjadi momen penting bagi 18 peserta dari empat program studi, yakni sastra arab, sastra inggris, dan sastra indonesia,  yang telah menyelesaikan seluruh proses akademik mereka. (08/11/2025). 


Acara yudisium berlangsung khidmat dan penuh kebanggaan. Para peserta yang hadir tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sebagai simbol pengukuhan atas perjuangan panjang mereka selama menempuh pendidikan di Fakultas Sastra.


Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Sastra Universitas Universitas Nahdltaul Wathan Mataram , Dr. Kholid, M.Pd menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yudisium dan apresiasi atas kerja keras mereka selama menempuh studi. Beliau berpesan agar para lulusan tidak berhenti belajar dan senantiasa mengembangkan diri agar dapat berkontribusi nyata di masyarakat.


“Jadilah sarjana yang bermanfaat bagi sesama. Perjalanan sebenarnya baru dimulai setelah ini. Tantangan di dunia kerja akan jauh lebih berat dan kompleks, maka siapkan diri dengan kompetensi, etika, dan semangat yang kuat,” ujar Dekan Fakultas Sastra dalam sambutannya.


Kholid juga menekankan pentingnya kemampuan adaptasi dan inovasi di era digital yang terus berkembang pesat, terutama bagi lulusan bidang teknik yang berperan penting dalam berbagai sektor pembangunan.


Melalui kegiatan ini, Kholid selalu Dekan Fakultas Sastra Universitas  Nahdlatul Wathan Mataram lebih jauh berharap agar para lulusan tidak hanya membawa ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga semangat untuk menjadi agen perubahan yang mampu memberikan solusi atas tantangan masyarakat dan dunia kerja di masa depan.



Monday

KORPRI LOMBOK TENGAH GANDENG UNIVERSITAS NAHDLATUL WATHAN MATARAM WUJUDKAN ASN UNGGUL DAN BERDAYA SAING

Ketua Dewan Pengurus KORPRI Lombok Tengah, H. Lalu Firman Wijaya (Kiri) bersama Rektor UNW Mataram, H. Lalu Gede Syamsul Mujahidin (Kanan). 



Lombok Tengah (harianbumigora.com) – Komitmen meningkatkan kapasitas dan kompetensi aparatur sipil negara terus diwujudkan oleh Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Kabupaten Lombok Tengah. Hal itu dibuktikan dengan penandatanganan Naskah Perjanjian Kerja Sama antara KORPRI Lombok Tengah dan Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram, yang berlangsung di Praya, Senin, 3 November 2025.


Penandatanganan dilakukan langsung oleh Ketua Dewan Pengurus KORPRI Kabupaten Lombok Tengah, H. Lalu Firman Wijaya, dan Rektor Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, H. Lalu Gede Syamsul Mujahidin. Kerja sama ini mencakup pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi serta program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi ASN dan masyarakat Lombok Tengah.


Dalam sambutannya, Ketua KORPRI Lombok Tengah H. Lalu Firman Wijaya menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam menyiapkan SDM aparatur yang tidak hanya kompeten di bidang administrasi pemerintahan, tetapi juga adaptif terhadap perubahan dan kemajuan zaman.


“Kita ingin ASN Lombok Tengah menjadi pelopor perubahan, bukan sekadar birokrat administratif. Dengan pendidikan yang relevan dan terarah, ASN bisa menjadi motor penggerak inovasi pelayanan publik,” ujarnya.


Sementara itu, Rektor UNW Mataram H. Lalu Gede Syamsul Mujahidin menegaskan kesiapan kampusnya untuk menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mencetak aparatur profesional.


 “Kami siap mendampingi ASN Lombok Tengah melalui program RPL dan pendidikan berbasis kompetensi yang menekankan pada pengalaman kerja serta penguatan karakter keilmuan,” ungkapnya.


Melalui kerja sama ini, ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah berkesempatan menempuh pendidikan tinggi dengan program RPL yang memungkinkan pengakuan pengalaman kerja sebagai bagian dari proses akademik, bahkan tanpa biaya SPP selama kuliah.


Kegiatan ini sekaligus menandai sinergi nyata antara dunia akademik dan birokrasi dalam membangun pemerintahan yang cerdas, responsif, dan berdaya saing tinggi sesuai dengan visi Lombok Tengah yang Mandiri, Berdaya Saing, Sejahtera, dan Harmonis (MASMIRAH).

Sunday

MTQ XXXI Suralaga, Camat Nurhilal: Saatnya Lahirkan Generasi Qur’ani yang Tangguh

Camat Suralaga dan Panitia saat menyambut peserta pawai di Desa Bagik Payung Selatan.


HARIANBUMIGORA.com - Rangkaian kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXI tingkat Kecamatan Suralaga resmi dimulai dengan semarak Pawai Taaruf, yang dipusatkan di Desa Bagik Payung Selatan pada Ahad, 19 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya ajang keagamaan yang mengusung tema “Membentuk Insan Qur’ani yang Tangguh Menuju Masyarakat yang Adil dan Makmur.”


Pawai taaruf yang berlangsung penuh warna dan antusiasme ini diikuti oleh para kafilah dari seluruh desa di Kecamatan Suralaga, serta turut dimeriahkan oleh berbagai lembaga pendidikan yang ada di Desa Bagik Payung Selatan selaku tuan rumah. Kehadiran mereka menambah kemeriahan suasana dan menunjukkan dukungan penuh masyarakat terhadap syiar Islam melalui kegiatan MTQ.


Camat Suralaga, Bapak Nurhilal, mendapat kehormatan untuk melepas langsung barisan pawai taaruf. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi dan harapan besar agar pelaksanaan MTQ tahun ini berjalan dengan tertib, sukses, dan penuh makna.


“Harapan besar kami adalah agar MTQ ini dapat melahirkan qari dan qariah terbaik yang mampu mengharumkan nama Kecamatan Suralaga di tingkat Kabupaten nantinya," ujar Camat Nurhilal, menegaskan pentingnya ajang MTQ sebagai sarana pembinaan generasi Qur’ani.


Sementara itu, Kepala Desa Bagik Payung Selatan, Bapak Abdul Manan, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh kafilah dan rombongan peserta. Ia menegaskan komitmennya sebagai tuan rumah untuk menghadirkan suasana lomba yang kondusif, khusyuk, dan penuh kekeluargaan.


“Sebagai tuan rumah, kami akan bekerja sebaik mungkin untuk memastikan atmosfer perlombaan tetap tenang dan khusyuk, sehingga para peserta dapat tampil maksimal dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an,”tutur Kades Abdul Manan.


Beliau juga mengimbau seluruh masyarakat Bagik Payung Selatan agar menjadi tuan rumah yang ramah dan bersahabat, memberikan pelayanan terbaik bagi para tamu dan peserta MTQ, sehingga meninggalkan kesan positif yang mendalam.


Pawai Taaruf ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi serta menumbuhkan semangat kebersamaan masyarakat Suralaga dalam memuliakan Al-Qur’an.


Dengan dukungan penuh dari pemerintah kecamatan, desa, dan masyarakat, pelaksanaan MTQ XXXI Kecamatan Suralaga diharapkan mampu menjadi wadah pencetak generasi Qur’ani yang tangguh, sekaligus langkah nyata menuju terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan tema yang diusung.

Thursday

Insiden Kebakaran Oven Warnai Panen Tembakau Lombok Timur

 

Aparat kepolisian bersama petugas damkar dan masyarakat saat sedang berusaha memadamkan api.


Lombok Timur (Harianbumigora.com) – Panen tembakau di Lombok Timur pada musim ini diwarnai insiden kebakaran oven. Salah satu kejadian kebakaran melanda sebuah bangunan pengering milik petani di Dusun Pijot, Desa Pijot, Kecamatan Keruak pada Rabu (24/9) malam sekitar pukul 22.30 WITA. Akibat kebakaran tersebut bangunan oven/ pengering tersebut ludes terbakar dan menghasilkan kerugian kepada yang bersangkutan. (25/09/2025)


Makmun (50), petani asal Dusun Pengkelak Mas, Kecamatan Sakra Barat adalah pemilik Bangunan berukuran 4 x 4 meter dengan tinggi 14 meter tersebut. Akibat insiden ini, oven tersebut membawa sekitar lima ton tembakau basah yang tengah menjalani proses pengopenan ikut ludes terbakar bersamanya.


Uding (55), warga setempat, menjadi saksi mata yang menyaksikan langsung bagaimana api membesar dari tungku pembakaran hingga melahap seluruh bangunan oven. Uding menuturkan penyebab si jago merah tidak terkendali karena banyaknya daun tembakau yang sudah mengering di dalam oven.
“Kobaran langsung membesar, tidak lama kemudian seluruh isi bangunan terbakar,” kata Uding kepada petugas.


Di lain pihak, Kasi Humas Polres Lombok Timur, AKP Nikolas Osman, menyampaikan bahwa kebakaran diduga dipicu penggunaan cangkang sawit dengan volume yang berlebihan. Menurut Nikolas, bahan penggunaan cangkang sawit secara berlebihan menghasilkan suhu panas yang terlalu tinggi sehingga tembakau yang kering sensitif terhadap sambaran api.


“Kondisi tembakau sudah sangat kering, sehingga api cepat menjalar dan sulit dikendalikan,” ungkap Osman.


Sementara itu, Petugas pemadam bersama-sama dengan masyarakat sekitar bahu-membahu menjinakkan api agar tidak sampai melahap rumah warga. Walaupun proses pemadaman berlangsung cukup lama, karena kobaran semakin membesar saat angin bertiup kencang, namun pada akhirnya si jago merah berhasil ditaklukkan.


Meski tidak menimbulkan korban jiwa, namun karena seluruh bangunan oven berikut isi tembakau tidak terselamatkan, kerugian ditaksir mencapai Rp 60 juta.


Nikolas sendiri menegaskan polisi melakukan langkah cepat sejak menerima laporan dari warga. Aparat langsung mendatangi lokasi, mengamankan area sekitar, serta ikut membantu proses pemadaman bersama tim damkar dan masyarakat. Namun demikian, Nikolas menghimbau agar masyarakat lebih berhati-hati lagi saat melakukan proses pembakaran tembakau.


“Laporan resmi sudah kami sampaikan kepada pimpinan. Kami juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat melakukan proses pengeringan tembakau,” ungkapnya.

Friday

Gubernur Iqbal Kukuhkan GEBER: Gerakan Kolaborasi Masyarakat Jaga Alam NTB



Lombok Barat (harianbumigora.com) – Gerakan Bersama Masyarakat Nusantara (GEBER) resmi dikukuhkan di Gedung Eks Camat Gunungsari, Rabu (18/9/2025). Acara ini dihadiri puluhan kepala desa dari Kecamatan Gunungsari, Batulayar, dan Lingsar serta melibatkan masyarakat luas dalam upaya pelestarian lingkungan dan peningkatan kepedulian sosial.


Rangkaian kegiatan berlangsung meriah dengan lomba menggambar bertema “Pelestarian Alam” yang diikuti anak-anak dan remaja. Selain itu, sebanyak 50 orang yang terdiri dari anak yatim dan orang tua jompo menerima santunan sebagai wujud kepedulian terhadap sesama.


Ketua GEBER, Saiful Hak, menegaskan komitmennya menjaga kelestarian alam NTB. “Kami berkomitmen memastikan kekayaan alam NTB tetap terjaga untuk generasi mendatang,” ujarnya.


Gubernur NTB, Dr. L. Muhammad Iqbal, yang hadir langsung dalam pengukuhan itu menekankan pentingnya perhatian terhadap lingkungan. “Satu hal yang sering luput dari perhatian kita adalah lingkungan. Kehadiran GEBER menjadi angin segar, karena memudahkan pemerintah membangun kolaborasi dengan masyarakat,” kata Iqbal.


Pengukuhan GEBER diharapkan menjadi titik awal membangun kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan hidup sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Ke depan, GEBER merencanakan berbagai program lanjutan untuk mempererat sinergi pemerintah dan masyarakat demi terwujudnya NTB yang lebih baik dan berkelanjutan.